Sabtu, 23 Mei 2026

Nyanyian untuk Nama-Nama yang Dipadamkan

 


ada malam yang tak pernah selesai
sejak peluru menembus dada muda itu.
di kampus, rumput masih hijau,
tetapi tanah di bawahnya
menyimpan karat darah
yang tak bisa dicuci hujan bertahun-tahun.

di lorong-lorong Universitas Trisakti,
gema langkah mereka masih terdengar,
sepatu yang tak jadi pulang,
buku catatan yang halaman akhirnya
ditulis oleh peluru.

lalu api menjalar ke kota.
jendela-jendela pecah
asap naik ke langit
membawa bau ban, daging, plastik,
dan doa yang hangus separuh.
orang-orang berlari
dengan muka dipenuhi amarah.

di sudut lain negeri,
seorang penyair dipanggil namanya
lalu dijadikan sunyi.
Wiji Thukul pergi tanpa pintu,
tanpa makam,
tanpa tanggal pulang.
hanya sajak-sajaknya yang tertinggal
seperti paku berkarat
di tenggorokan penguasa.

ada pula mereka
yang diseret dari tidur,
dari jalan,
dari ruang tamu,
dari ciuman terakhir kepada anaknya.
mereka hilang
seperti batu dilempar ke sumur gelap:
suara jatuhnya terdengar,
dasarnya tidak.

ibu-ibu menua di depan jendela,
setiap sore menyetrika harapan
yang kusut oleh waktu.
ayah-ayah memanggil nama
ke arah pintu yang tak pernah menjawab.
anak-anak tumbuh
dengan lubang di silsilah keluarga.

 

mereka kini bediri setiap Kamis

di depan istana yang dilingkari sunyi

mati seperti batu kali.

negara menaruh bunga di podium,
tetapi menyimpan sekop di belakang punggung.
ia pandai berpidato tentang luka,
namun gagap menyebut siapa penikamnya.
ia membangun tugu,
namun mengubur kebenaran lebih dalam.

dan kita,
masih berjalan di trotoar yang sama,
melewati bayang-bayang tanpa nisan,
menghirup udara
yang pernah dipenuhi jerit.

sebab ada kematian
yang tak selesai dengan liang lahat.
ada kehilangan
yang terus menggigit zaman.
ada nama-nama
yang dipadamkan dari daftar hadir,
namun menyala
di bagian paling gelap dari ingatan.

Rabu, 21 Agustus 2024

Karena tuan tak mau dengar aspirasi kami

bayi-bayi kami kekurangan gizi

harga susu terlalu tinggi

kami kekurangan pangan

harga sembako terbang ke awan

kami kehilangan penghidupan

PHK menikam

anak-anak kami tak bisa lagi belajar

biaya sekolah tak terbayar

karena kami tak tahan

maka kami berdemonstrasi

menuntut reformasi

 

kami sampaikan aspirasi kami

kami dituduh subversi

kami tuntut hak kami

suara kami dikebiri

kami minta kemerdekaan

yang diberikan Tuhan kami

kami dibui

kami tuntut reformasi

dijawab dengan pentungan, gas air mata dan amunisi

karena jiwa kami tak bisa lagi dibungkam

maka kami lakukan : REVOLUSI. 

                                           Tangerang, mei 1998

Tak ada lagi duka

 

tak ada lagi duka untuk cinta yang kandas

karena duka tak lagi tersisa

habis dihisap oleh bayi-bayi yang kekurangan gizi

harga susu terlalu tinggi

rakyat yang kekurangan pangan

karena sembako menghilang

terbang ke awan

buruh-buruh kehilangan masa depan

terancam dirumahkan

anak-anak tak lagi belajar

biaya sekolah tak terbayar

 

tak ada lagi air mata untuk cinta yang gagal

karena air mata telah kering

terkuras oleh :

               ibu-ibu yang kehilangan anak

               anak-anak kehingan ayah

               istri-istri yang kehilangan suami

               anak-anak muda kehilangan kemerdekaan dan harapan

 

tak ada lagi duka untuk cinta yang patah

karena duka telah hangus

terbakar nafsu hitam

dijarah rakyat yang kegelapan

ditelan pejabat yang lapar kekuasaan

 

tak ada lagi duka

tak ada lagi air mata

untuk suatu perpisahan

karena duka dan air mata

sudah hilang di hati kita

 

                                           Tangerang, mei 1998

Minggu, 18 Agustus 2024

Indonesiaku ingin kuteriakkan dengan lantang kata “merdeka”

 


Indonesiaku ingin kuteriakkan dengan lantang kata “merdeka”

namun tangan-tangan berdaki tinggal tulang menyumbat tengggorokanku

dan aku hanya mampu berbisik “merdeka”

 

Indonesiaku ingin kutulis kata “merdeka” dengan tinta tebal

di dinding-dinding setiap rumah dan hati rakyatmu

namun mata-mata sayu bocah-bocah tak bermasa depan

menahan tanganku

dan aku hanya bisa mencoret kata-kata “sudahkah merdeka?”

 

Indonesiaku ingin kukerek merah putihmu ke puncak tiang, kukibarkan di puncak-puncak gedung dan gunung

dengan sepenuh tenaga yang kumiliki

namun tangan-tangan asing yang mengeruk emas di timika, batu bara di borneo, sawit di andalas, ikan di samudera hindia, nikel di tanah Anoa, darah-darah yang tumpah di meisuji, poso, papua, safe, sampang, KM 50, kanjuruhan, ....

rakyat yang tergusur dari tanah kelahiran,

korban pembangunan untuk mengisi kemedekaan

yang mereka bilang proyek strategis nasional

untuk kesejahteraan

menguras tenagaku

dan aku hanya mampu menarik merah putihmu setengah tiang

Indonesiaku aku ingin “merdeka”

 

Rabu, 07 Agustus 2019

Ingin Kutulis Tentang Ibu


Ingin kutulis tentang ibu:
tentang tetes-tetes darahnya saat melahirkanku,
tentang bulir-bulir keringatnya saat membimbingku dan mendidikku,
tentang titik-titik air matanya saat mencemaskanku,
tentang kelelahannya, semangatnya, kesedihannya, kebahagiaannya,
tentang kasihnya.

Tak cukup tinta dan kertas
untuk menuliskan kasih ibu.

Ingin kulukis sosok ibu:
lukisan keteduhan,
lukisan kelembutan,
lukisan keriangan,
lukisan kenyamanan,
lukisan kebahagiaan,
lukisan kesedihan,
lukisan harapan,
lukisan kecemasan,
lukisan kasih sayang.

Tak cukup kanvas, kuas dan warna
untuk melukis ibu!



Ingin kuceritakan tentang ibu:
Tentang tutur katanya yang menyejukkan kalbu
Tentang lembut tangannya mengusap rambutku
Tentang tatapan matanya yang mematik rindu
Ingin kuceritakan tentang ibu:
Tentang lelahnya. Tentang kasihnya. Tentang ikhlasnya. Tentang pengorbanannya. Tentang cemasnya. Tentang rindunya.

Tak cukup kata untuk menceritakan kisah ibu.

Tangerang, 2017.

Pelayaran Ramadhan


Peta-Mu telah kubentangkan
Kompas telah terpasang
Layar telah terkembang
            : pelayaran telah dimulai

Mengarungi samudera ramadhan
Menyusuri jalan yang ada di peta-Mu
Berlayar diantara karang
: Kehidupan fana
Menembus ombak dan gelombang
: Kesenangan maya
Menebar jala, menjaring harapan:
            Rahmat, maghfirah dan ridho-Mu

Pelayaran mengarungi samudera ramadhan
Menyusuri jalan yang telah Kau tetapkan
Bergulat dengan hari-hari haus dan dahaga
Menerjang badai godaan syahwat  dan bujukan
Berharap berlabuh di pelabuhan iedul fitri
Bersandar di pantai lailatul qadar.
                                                Tangerang, 30 Mei 2017

Kupenuhi Panggilan-Mu


Jutaan kaki yang berjalan dari delapan penjuru
Menapak jejak purba yang dipetakan Ibrahim
Tanpa jubah kebesaran: jabatan, kekayan dan ketenaran
Berbalut kain putih
Berharap debu yang menutupi tubuh
Kembali bersih

Jutaan mulut gemetar syahdu
Larut dalam haru. Berdzikir
Talbiyah:
                Labbaikallaahumma labbaika,     
                labbaika laa syariika laka labbaika,
                innal hamda  wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka.
Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, juga semua kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Jutaan jiwa berputar dalam satu arah
Melawan arus waktu. Kehidupan
: dari tiada kembali tiada.

Jutaan wajah khusyu dalam do’a
Di bawah temaram bulan yang hampir sempurna
Di langit Mina

Jutaan mata meneteskan air mata
Menatap lukisan diri
Berbalut debu, berbungkus lumpur
Dosa-dosa diri
Dalam setiap detik waktu
Di tenda-tenda Padang Arafah

Jutaan tangan menghentak kuat
Melontar kerikil:
Nafsu angkara yang bersemayam dalam diri

Jutaan kaki yang melangkah dari delapan penjuru
Jutaan wajah yang tertunduk haru
Jutaan hati yang larut dalam khusyu
Memenuhi panggilan-Mu
Berharap maghfirah-Mu.

Mina, 2017.

Rabu, 22 Mei 2013

Tanjung Kait




laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
sesekali lidah ombak menjilat akar yang tersembul
istana pasir yang kita bangun tiga mil dari rimbun pohon bakau
telah lama tenggelam
tak tampak lagi nyiur melambai seperti dalam nyanyian masa kecil
berganti tambak udang
 milik orang-orang yang tak pernah merasakan
air pasang menggenang dapur dan kamar tidur
gubuk-gubuk penjual ikan bakar
dengan setengah badannya berdiri di atas air
merampas tempat kita bercanda,
saling melempar pasir dan menyembur air

laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
ombak telah menghapus janji kita
bersama anak-anak membangun istana pasir
di bawah pohon yang kita tanam.

                                         Tangerang,  25-12-2011 

Demi Angka yang Terlukis pada otak dan Hati




Demi angka yang terlukis pada otak dan hati
Ruang kelas jadi mati
Bangku-bangku beku batu kali
Tubuh-tubuh kaku
Menatap kosong papan bertulis angka-angka:
                Angka ujian
                Angka raport
                Angka ranking
                Angka komisi
                Angka pendapatan
                Ruapiah tambahan

Demi angka yang terlukis pada otak dan hati
Keluhan elang yang dipaksa belajar berenang
Tak ada yang peduli
Rintihan kancil yang dipaksa belajar terbang
Tak ada yang mendengarkan
Rengek gajah yang dipaksa belajar menggali
Tak ada yang memperhatikan

Demi angka yang terlukis pada otak dan hati

Meisuji


seperti juga sambas, poso dan ambon
yang tercatat dalam berita masa silam
di sini hewan dan manusia hampir tak ada beda
nyawa tak berharga

seperti juga orang utan di kalimantan,
monyet dan bekantan masuk perkebunan
harus dimusnahkan
di sini orang  masuk perkebunan
menuntut hak lahan garapan
setelah dirampas perusahaan
juga dimusnahkan

seperti juga dalam rimba
tak ada hukum dan etika
kawan atau saudara
binatang kuat dapat kesenangan
binatang lemah jadi santapan
di sini yang punya rupiah
boleh menumpahkan darah
tanpa rasa bersalah
yang lemah bisa donor darah
atau berdarah-darah.

Taman Kecil Depan Rumah


Jika taman kecil depan rumah
Ukuran dua kali dua meter
Dengan air terjun mini, pohon cemara, mangga
Tiga pohon bunga melati, lavender dan anggrek
Memberiku kesejukkan dan ketenangan
Bagaimana dengan taman surga
Yang Kau janjikan dalam ayat-ayat-Mu
Yang keindahannya tak terlukiskan?
Betapa bodohnya aku
Hanya untuk mewujudkan taman kecil depan rumah
Aku sering melupakan taman surga-Mu!

Malam Tahun Baru


tak kutemukan keheningan
yang biasa hadir dalam sujud tahajudku
saat jarum jam diangka dua belas
langit malam semarak
warna-warni kembang api
suara-suara riuh
riang dari ruang hampa
bising mengisi ruang kepala

tak kutemukan keriangan
yang mengisi ruang dada
ketika langit semarak warna-warni kembang api
api yang menghanguskan gubuk-gubuk petani Mesuji
rumah-rumah kaum syiah di Madura
desing kembang api yang melintas di atas kepala
desing peluru dari senapan di Mesuji, Sape, Timika, Aceh dan Manokwari
jerit terompet mengiris malam
jerit istri kehilangan suami, jerit petani kehilangan lahan, jerit keluarga kehilangan tempat tinggal

Saat malam menuju puncak
Jarum jam meninggalkan angka dua belas
Aku kehilangan diriku dan negeriku.

Orkestra Buruh

waktu seakan berhenti
 bersama mesin yang bergerak dua puluh empat jam
 tubuh-tubuh bergerak sesuai perintah
 repetitip
 sesuai irama yang dimainkan mandor dan manajer
 semua bernyanyi dengan nada sama
 rendah
 tak ada suara satu, dua atau tiga
 yang sumbang kena PHK
 tak ada improvisasi
 repertoar dibuat untuk kepentingan produksi
 nada tinggi hanya untuk manajer dan direksi
 harmoni hanya untuk kebutuhan investasi
 buruh hanya ikut konduktor
 sesuai arahan produser.

Rabu, 06 Mei 2009

ZAMAN MODERN ATAU JAHILIYAH

”INI ZAMAN MODER”

BUNYI SPANDUK

YANG TERPASANG PADA BILBOARD TENGAH KOTA

TERBENTANG DI GAPURA-GAPURA DESA

DI LANGIT BULAN PUCAT

KEHILANGAN WARNA

BINTANG KEHILANGAN TERANG


”INI ZAMAN MODERN”

BUNYI SEBUAH KORAN PAGI

DENGAN HEAD LINE BERITA

SEIBU PERAMPOKAN

SERIBU PEMBUNUHAN

SERIBU PERKOSAAN

SERIBU KORUPSI

SERIBU KOLUSI

SERIBU MANIPULASI

SERIBU PERZINAHAN

SERIBU PELACURAN

SERIBU PENINDASAN

SERIBUPENGGUSURAN


”INI ZAMAN MODER, BUNG”

SERU SEBUAH SUARA

DARI SOUND SYSTEM KEKUATAN SEJUTA WATT

YANG DIPANCARKAN DARI GEDUNG SERIBU TINGKAT

LAKI-LAKI BOLEH BERAMBUT SEPINGGANG

BERLIPSTIK DAN MEMAKAI ANTING

WANITA BOLEH BERAMBUT CEPAK

BERCELANA KETAT ATAU MEMBUKA AURAT

PARA BAPAK BOLEH LUPAKAN ANAK

DEMI KEKAYAAN DAN KESENANGAN

PARA IBU BOLEH LUPAKAN DAPUR

CARI APA SAJAYANG MENGHIBUR


”INILAH GAYA HIDUP MODER” UJAR SEPASANG ANAK MUDA

DENGAN RAMBUT BERWARNA GAYA PUNK

PAKAIAN GAYA METAL

PIZZA DAN FRIED CHIKEN JADI MAKANAN HARIAN

WISKY DAN BIR JADI MINUMAN KESEHATAN

PUTAW DAN ECTASY JADI OBAT FLU

PIL-PIL ANTI HAMIL JADI GULA-GULA

MAKANAN RINGAN GADIS REMAJA


”INIKAH ZAMAN MODERN?’

TANYA HATIKU

SAAT KUSUSURI LORONG-LORONG KOTA

WAJAH-WAJAH KEHILANGAN BENTUK

LANGKAH-LANGKAH KEHILANGAN ARAH

WARNA-WARNA MENGABUR

ADZAN BERUBAH JADI NYANYIAN

SHALAT DIJADIKAN GERAK BADAN

TUHAN DIGANDAKAN

DUNIA JADI SERBA TUHAN

AKHIRAT JADI CERITA KHAYALAN

AGAMA JADI PERMAINAN

NORMA DAN MORAL JADI HIASAN


”AKU HIDUP DIZAMAN MODERN”

BISIK HATIKU

SAAT KUTATAP CERMIN

WAJAHKUPUN TAK KUKENAL LAGI

Munajat

Wahai yang meninggikan langit
Wahai yang menghamparkan bumi
Wahai yang menegakan gunung
Wahai yang menciptakan unta
aku yang terkapar
dilindas zaman
dihimpit peradaban
tersesat di lorong-lorong waktu
hitam
merangkak mengetuk pintu-Mu

Wahai yang menghidupkan yang hidup
Wahai yang mematikan yang hidup
Wahai yang menurunkan hujan
Wahai yang menyalakan api
Wahai yang menumbuhkan benih
apakah tangan-Mu mau merengkuhku
setelah lama lidahku alpa mengeja asma-Mu
adakah kasih-Mu menyejukan kalbuku
setelah lama kukosongkan dari cahaya-Mu
apakah maghfirah-Mu menyiram tubuhku
setelah lama kugadaikan pada nafsu hitamku

Wahai,
aku tahu tak pantas masuk surga-Mu
namun jangan masukan aku ke dalam neraka-Mu
jangan kau bakar dengan api-Mu

Wahai yang maha pengampun
Aku mohon ampunan-Mu

Selasa, 10 Maret 2009

Kusapa Kotaku

: Tangerang


Selamat pagi kotaku,
Senyummu kenes
Kerling mengundang
Laron dan kumbang
Mengejar cahaya
: mereka datang dari barat dan timur
berimpit-impit di petak sempit
tiap pagi antri
dengan handuk dan sikat gigi
berpacu dengan bayang-bayang matahari

Selamat siang kotaku,
Kau makin cantik
Bahu kekar dada bidang
Apartemen dan real estate
Suaramu lantang
Gemuruh pabrik, deru motor, mobil dan dendang pramuniaga

Selamat malam kotaku,
Gemerlap lampu. Aneka warna
bunga plastik
Berlapis lipstick
Lagu dangdut, nyanyian nigth club
Dzikir para pencari dalam tahajud
Berpadu di rongga dadamu

Selamat Berpisah

Inmemoriam : M. Agustian
: selembar daun gugur
menyatu kembali dengan bumi


ruang hampa
malam basah. pekat tanpa bulan

”penyakit itu. penyakit itu”, serunya
bibirnya bergetar. lelah
sendu. matanya menatap
lukisan cita-cita
yang ia susun dari puing-puing impian
luruh. satu-satu disapu angin
air matanya membatu

”aku akan pergi
bersama angin”, lirihnya
dilukisnya kenangan pada dinding waktu
ia pagut duka di ujung waktu

”selamat berpisah”, ucapnya
dipenghujung napas
saat angin bulan maret
menghempaskannya
pada malam tak bertepi

Perbincangan Senja di Tawangmangu

Kepak sayap kelelawar menjemput senja
senja jatuh di celah-celah ranting
mengundang angin dan kabut
menggerakkan sepi turun ke lereng-lereng bukit
aku ingin kesejukan
yang mengisi ruang hampaku, katamu.
saat butir-butir air grojogan sewu
diterpa angin kemarau
hinggap di wajahmu
Sebatang ranting patah
saat seekor monyet loncat
terkaget ketika kita lewat
jalanku mendaki, rapuh dan berbatu, katamu
saat langkah kita menapak tangga-tangga tanah
kau harus sampai ke puncak, kataku
edelweiss ungu
ilalang biru
terhampar di puncak Lawu
Matahari menua di puncak pinus
beberapa burung gereja pulang ke sarang
bunyi air menimpa batu
grojogan sewu
sayup. Mengiris ruang hampa di dada
aku ingin pinus tumbuh di ruang hampaku
tegar, sejuk dan harum, bisikmu
saat kita sampai di pintu gerbang
nafasmu lelah
tatapmu gelisah
puncak Lawu dililit kabut
saat kau berlalu
meninggalkan bayang-bayang senja depanku

Suatu Malam Di Tepi Kali Cisadane

suatu malam di tepi kali cisadane
bulan-bintang di atas kubah
rebah
tenggelam di bawah jembatan

bidadari-bidadari
meniti pelangi. lampu mercury
mandi cahaya
kembang plastik
berpoles lipstick
yang baru kuncup
malu-malu
yang telah mekar
menebar aroma
: Joko Tarub, Joko Tarub
tak perlu mengintip
mencuri selendang bidadari
siapa yang bayar
silahkan petik kembang

Senin, 12 Januari 2009

Lukaku

kugarami lukaku
ingin kurasakan perih yang dikabarkan burung
luka-luka menganga di delapan penjuru angin :
luka orang-orang yang terkapar sabtu pagi
tanggal dua puluh tujuh juli
luka orang-orang yang terpanggang
tanggal dua belas mei petang
luka dom
luka ambon
luka poso
luka priok
luka irak
luka bosnia
luka palestina
luka afghanistan
luka kashmir
kabar dari angin :
luka-luka itu telah membusuk
menggerogoti seluruh organ
menyemaikan virus
menjalar ke setiap sudut :
meledak di bali
meledak di jakarta
meledak di batam
meledak di medan
meledak di palu
meledak di riyadh
meledak di checnya
meledak di moscow
meledak di new york

telah kusiramkan asam di atas lukaku
agar kurasakan sakit yang dihembuskan angin barat:
lukameulabohlukabireunlukabandaacehlukasibolgalukaalorlukanabire
lukaistrilukasuamilukaanaklukaibulukaayahlukakakaklukaadik
lukaburunglukabungalukapohonlukahutanlukalautlukagunung

aku rasakan pedih lukaku
tapi lukaku luka tergores duri