Rabu, 21 Agustus 2024

Karena tuan tak mau dengar aspirasi kami

bayi-bayi kami kekurangan gizi

harga susu terlalu tinggi

kami kekurangan pangan

harga sembako terbang ke awan

kami kehilangan penghidupan

PHK menikam

anak-anak kami tak bisa lagi belajar

biaya sekolah tak terbayar

karena kami tak tahan

maka kami berdemonstrasi

menuntut reformasi

 

kami sampaikan aspirasi kami

kami dituduh subversi

kami tuntut hak kami

suara kami dikebiri

kami minta kemerdekaan

yang diberikan Tuhan kami

kami dibui

kami tuntut reformasi

dijawab dengan pentungan, gas air mata dan amunisi

karena jiwa kami tak bisa lagi dibungkam

maka kami lakukan : REVOLUSI. 

                                           Tangerang, mei 1998

Tak ada lagi duka

 

tak ada lagi duka untuk cinta yang kandas

karena duka tak lagi tersisa

habis dihisap oleh bayi-bayi yang kekurangan gizi

harga susu terlalu tinggi

rakyat yang kekurangan pangan

karena sembako menghilang

terbang ke awan

buruh-buruh kehilangan masa depan

terancam dirumahkan

anak-anak tak lagi belajar

biaya sekolah tak terbayar

 

tak ada lagi air mata untuk cinta yang gagal

karena air mata telah kering

terkuras oleh :

               ibu-ibu yang kehilangan anak

               anak-anak kehingan ayah

               istri-istri yang kehilangan suami

               anak-anak muda kehilangan kemerdekaan dan harapan

 

tak ada lagi duka untuk cinta yang patah

karena duka telah hangus

terbakar nafsu hitam

dijarah rakyat yang kegelapan

ditelan pejabat yang lapar kekuasaan

 

tak ada lagi duka

tak ada lagi air mata

untuk suatu perpisahan

karena duka dan air mata

sudah hilang di hati kita

 

                                           Tangerang, mei 1998

Minggu, 18 Agustus 2024

Indonesiaku ingin kuteriakkan dengan lantang kata “merdeka”

 


Indonesiaku ingin kuteriakkan dengan lantang kata “merdeka”

namun tangan-tangan berdaki tinggal tulang menyumbat tengggorokanku

dan aku hanya mampu berbisik “merdeka”

 

Indonesiaku ingin kutulis kata “merdeka” dengan tinta tebal

di dinding-dinding setiap rumah dan hati rakyatmu

namun mata-mata sayu bocah-bocah tak bermasa depan

menahan tanganku

dan aku hanya bisa mencoret kata-kata “sudahkah merdeka?”

 

Indonesiaku ingin kukerek merah putihmu ke puncak tiang, kukibarkan di puncak-puncak gedung dan gunung

dengan sepenuh tenaga yang kumiliki

namun tangan-tangan asing yang mengeruk emas di timika, batu bara di borneo, sawit di andalas, ikan di samudera hindia, nikel di tanah Anoa, darah-darah yang tumpah di meisuji, poso, papua, safe, sampang, KM 50, kanjuruhan, ....

rakyat yang tergusur dari tanah kelahiran,

korban pembangunan untuk mengisi kemedekaan

yang mereka bilang proyek strategis nasional

untuk kesejahteraan

menguras tenagaku

dan aku hanya mampu menarik merah putihmu setengah tiang

Indonesiaku aku ingin “merdeka”

 

Rabu, 07 Agustus 2019

Ingin Kutulis Tentang Ibu


Ingin kutulis tentang ibu:
tentang tetes-tetes darahnya saat melahirkanku,
tentang bulir-bulir keringatnya saat membimbingku dan mendidikku,
tentang titik-titik air matanya saat mencemaskanku,
tentang kelelahannya, semangatnya, kesedihannya, kebahagiaannya,
tentang kasihnya.

Tak cukup tinta dan kertas
untuk menuliskan kasih ibu.

Ingin kulukis sosok ibu:
lukisan keteduhan,
lukisan kelembutan,
lukisan keriangan,
lukisan kenyamanan,
lukisan kebahagiaan,
lukisan kesedihan,
lukisan harapan,
lukisan kecemasan,
lukisan kasih sayang.

Tak cukup kanvas, kuas dan warna
untuk melukis ibu!



Ingin kuceritakan tentang ibu:
Tentang tutur katanya yang menyejukkan kalbu
Tentang lembut tangannya mengusap rambutku
Tentang tatapan matanya yang mematik rindu
Ingin kuceritakan tentang ibu:
Tentang lelahnya. Tentang kasihnya. Tentang ikhlasnya. Tentang pengorbanannya. Tentang cemasnya. Tentang rindunya.

Tak cukup kata untuk menceritakan kisah ibu.

Tangerang, 2017.

Pelayaran Ramadhan


Peta-Mu telah kubentangkan
Kompas telah terpasang
Layar telah terkembang
            : pelayaran telah dimulai

Mengarungi samudera ramadhan
Menyusuri jalan yang ada di peta-Mu
Berlayar diantara karang
: Kehidupan fana
Menembus ombak dan gelombang
: Kesenangan maya
Menebar jala, menjaring harapan:
            Rahmat, maghfirah dan ridho-Mu

Pelayaran mengarungi samudera ramadhan
Menyusuri jalan yang telah Kau tetapkan
Bergulat dengan hari-hari haus dan dahaga
Menerjang badai godaan syahwat  dan bujukan
Berharap berlabuh di pelabuhan iedul fitri
Bersandar di pantai lailatul qadar.
                                                Tangerang, 30 Mei 2017

Kupenuhi Panggilan-Mu


Jutaan kaki yang berjalan dari delapan penjuru
Menapak jejak purba yang dipetakan Ibrahim
Tanpa jubah kebesaran: jabatan, kekayan dan ketenaran
Berbalut kain putih
Berharap debu yang menutupi tubuh
Kembali bersih

Jutaan mulut gemetar syahdu
Larut dalam haru. Berdzikir
Talbiyah:
                Labbaikallaahumma labbaika,     
                labbaika laa syariika laka labbaika,
                innal hamda  wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka.
Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, juga semua kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Jutaan jiwa berputar dalam satu arah
Melawan arus waktu. Kehidupan
: dari tiada kembali tiada.

Jutaan wajah khusyu dalam do’a
Di bawah temaram bulan yang hampir sempurna
Di langit Mina

Jutaan mata meneteskan air mata
Menatap lukisan diri
Berbalut debu, berbungkus lumpur
Dosa-dosa diri
Dalam setiap detik waktu
Di tenda-tenda Padang Arafah

Jutaan tangan menghentak kuat
Melontar kerikil:
Nafsu angkara yang bersemayam dalam diri

Jutaan kaki yang melangkah dari delapan penjuru
Jutaan wajah yang tertunduk haru
Jutaan hati yang larut dalam khusyu
Memenuhi panggilan-Mu
Berharap maghfirah-Mu.

Mina, 2017.

Rabu, 22 Mei 2013

Tanjung Kait




laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
sesekali lidah ombak menjilat akar yang tersembul
istana pasir yang kita bangun tiga mil dari rimbun pohon bakau
telah lama tenggelam
tak tampak lagi nyiur melambai seperti dalam nyanyian masa kecil
berganti tambak udang
 milik orang-orang yang tak pernah merasakan
air pasang menggenang dapur dan kamar tidur
gubuk-gubuk penjual ikan bakar
dengan setengah badannya berdiri di atas air
merampas tempat kita bercanda,
saling melempar pasir dan menyembur air

laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
ombak telah menghapus janji kita
bersama anak-anak membangun istana pasir
di bawah pohon yang kita tanam.

                                         Tangerang,  25-12-2011