ada malam yang tak pernah
selesai
sejak peluru menembus dada muda itu.
di kampus, rumput masih hijau,
tetapi tanah di bawahnya
menyimpan karat darah
yang tak bisa dicuci hujan bertahun-tahun.
gema langkah mereka masih terdengar,
sepatu yang tak jadi pulang,
buku catatan yang halaman akhirnya
ditulis oleh peluru.
lalu api menjalar ke kota.
jendela-jendela pecah
asap naik ke langit
membawa bau ban, daging, plastik,
dan doa yang hangus separuh.
orang-orang berlari
dengan muka dipenuhi amarah.
di sudut lain negeri,
seorang penyair dipanggil namanya
lalu dijadikan sunyi.
Wiji Thukul pergi tanpa pintu,
tanpa makam,
tanpa tanggal pulang.
hanya sajak-sajaknya yang tertinggal
seperti paku berkarat
di tenggorokan penguasa.
ada pula mereka
yang diseret dari tidur,
dari jalan,
dari ruang tamu,
dari ciuman terakhir kepada anaknya.
mereka hilang
seperti batu dilempar ke sumur gelap:
suara jatuhnya terdengar,
dasarnya tidak.
ibu-ibu menua di depan jendela,
setiap sore menyetrika harapan
yang kusut oleh waktu.
ayah-ayah memanggil nama
ke arah pintu yang tak pernah menjawab.
anak-anak tumbuh
dengan lubang di silsilah keluarga.
mereka
kini bediri setiap Kamis
di depan
istana yang dilingkari sunyi
mati
seperti batu kali.
negara menaruh bunga di podium,
tetapi menyimpan sekop di belakang punggung.
ia pandai berpidato tentang luka,
namun gagap menyebut siapa penikamnya.
ia membangun tugu,
namun mengubur kebenaran lebih dalam.
dan kita,
masih berjalan di trotoar yang sama,
melewati bayang-bayang tanpa nisan,
menghirup udara
yang pernah dipenuhi jerit.
sebab ada kematian
yang tak selesai dengan liang lahat.
ada kehilangan
yang terus menggigit zaman.
ada nama-nama
yang dipadamkan dari daftar hadir,
namun menyala
di bagian paling gelap dari ingatan.