waktu seakan berhenti
bersama mesin yang bergerak dua puluh empat jam
tubuh-tubuh bergerak sesuai perintah
repetitip
sesuai irama yang dimainkan mandor dan manajer
semua bernyanyi dengan nada sama
rendah
tak ada suara satu, dua atau tiga
yang sumbang kena PHK
tak ada improvisasi
repertoar dibuat untuk kepentingan produksi
nada tinggi hanya untuk manajer dan direksi
harmoni hanya untuk kebutuhan investasi
buruh hanya ikut konduktor
sesuai arahan produser.
Wahai yang meninggikan langit Wahai yang menghamparkan bumi Wahai yang menegakan gunung Wahai yang menciptakan unta aku yang terkapar dilindas zaman dihimpit peradaban tersesat di lorong-lorong waktu hitam merangkak mengetuk pintu-Mu
Wahai yang menghidupkan yang hidup Wahai yang mematikan yang hidup Wahai yang menurunkan hujan Wahai yang menyalakan api Wahai yang menumbuhkan benih apakah tangan-Mu mau merengkuhku setelah lama lidahku alpa mengeja asma-Mu adakah kasih-Mu menyejukan kalbuku setelah lama kukosongkan dari cahaya-Mu apakah maghfirah-Mu menyiram tubuhku setelah lama kugadaikan pada nafsu hitamku
Wahai, aku tahu tak pantas masuk surga-Mu namun jangan masukan aku ke dalam neraka-Mu jangan kau bakar dengan api-Mu
Selamat pagi kotaku, Senyummu kenes Kerling mengundang Laron dan kumbang Mengejar cahaya : mereka datang dari barat dan timur berimpit-impit di petak sempit tiap pagi antri dengan handuk dan sikat gigi berpacu dengan bayang-bayang matahari
Selamat siang kotaku, Kau makin cantik Bahu kekar dada bidang Apartemen dan real estate Suaramu lantang Gemuruh pabrik, deru motor, mobil dan dendang pramuniaga
Selamat malam kotaku, Gemerlap lampu. Aneka warna bunga plastik Berlapis lipstick Lagu dangdut, nyanyian nigth club Dzikir para pencari dalam tahajud Berpadu di rongga dadamu
Inmemoriam : M. Agustian : selembar daun gugur menyatu kembali dengan bumi
ruang hampa malam basah. pekat tanpa bulan
”penyakit itu. penyakit itu”, serunya bibirnya bergetar. lelah sendu. matanya menatap lukisan cita-cita yang ia susun dari puing-puing impian luruh. satu-satu disapu angin air matanya membatu
”aku akan pergi bersama angin”, lirihnya dilukisnya kenangan pada dinding waktu ia pagut duka di ujung waktu
”selamat berpisah”, ucapnya dipenghujung napas saat angin bulan maret menghempaskannya pada malam tak bertepi
Kepak sayap kelelawar menjemput senja senja jatuh di celah-celah ranting mengundang angin dan kabut menggerakkan sepi turun ke lereng-lereng bukit aku ingin kesejukan yang mengisi ruang hampaku, katamu. saat butir-butir air grojogan sewu diterpa angin kemarau hinggap di wajahmu Sebatang ranting patah saat seekor monyet loncat terkaget ketika kita lewat jalanku mendaki, rapuh dan berbatu, katamu saat langkah kita menapak tangga-tangga tanah kau harus sampai ke puncak, kataku edelweiss ungu ilalang biru terhampar di puncak Lawu Matahari menua di puncak pinus beberapa burung gereja pulang ke sarang bunyi air menimpa batu grojogan sewu sayup. Mengiris ruang hampa di dada aku ingin pinus tumbuh di ruang hampaku tegar, sejuk dan harum, bisikmu saat kita sampai di pintu gerbang nafasmu lelah tatapmu gelisah puncak Lawu dililit kabut saat kau berlalu meninggalkan bayang-bayang senja depanku
suatu malam di tepi kali cisadane bulan-bintang di atas kubah rebah tenggelam di bawah jembatan
bidadari-bidadari meniti pelangi. lampu mercury mandi cahaya kembang plastik berpoles lipstick yang baru kuncup malu-malu yang telah mekar menebar aroma : Joko Tarub, Joko Tarub tak perlu mengintip mencuri selendang bidadari siapa yang bayar silahkan petik kembang