Rabu, 22 Mei 2013

Tanjung Kait




laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
sesekali lidah ombak menjilat akar yang tersembul
istana pasir yang kita bangun tiga mil dari rimbun pohon bakau
telah lama tenggelam
tak tampak lagi nyiur melambai seperti dalam nyanyian masa kecil
berganti tambak udang
 milik orang-orang yang tak pernah merasakan
air pasang menggenang dapur dan kamar tidur
gubuk-gubuk penjual ikan bakar
dengan setengah badannya berdiri di atas air
merampas tempat kita bercanda,
saling melempar pasir dan menyembur air

laut tinggal sedepa dari pohon yang kita tanam
ombak telah menghapus janji kita
bersama anak-anak membangun istana pasir
di bawah pohon yang kita tanam.

                                         Tangerang,  25-12-2011 

Demi Angka yang Terlukis pada otak dan Hati




Demi angka yang terlukis pada otak dan hati
Ruang kelas jadi mati
Bangku-bangku beku batu kali
Tubuh-tubuh kaku
Menatap kosong papan bertulis angka-angka:
                Angka ujian
                Angka raport
                Angka ranking
                Angka komisi
                Angka pendapatan
                Ruapiah tambahan

Demi angka yang terlukis pada otak dan hati
Keluhan elang yang dipaksa belajar berenang
Tak ada yang peduli
Rintihan kancil yang dipaksa belajar terbang
Tak ada yang mendengarkan
Rengek gajah yang dipaksa belajar menggali
Tak ada yang memperhatikan

Demi angka yang terlukis pada otak dan hati

Meisuji


seperti juga sambas, poso dan ambon
yang tercatat dalam berita masa silam
di sini hewan dan manusia hampir tak ada beda
nyawa tak berharga

seperti juga orang utan di kalimantan,
monyet dan bekantan masuk perkebunan
harus dimusnahkan
di sini orang  masuk perkebunan
menuntut hak lahan garapan
setelah dirampas perusahaan
juga dimusnahkan

seperti juga dalam rimba
tak ada hukum dan etika
kawan atau saudara
binatang kuat dapat kesenangan
binatang lemah jadi santapan
di sini yang punya rupiah
boleh menumpahkan darah
tanpa rasa bersalah
yang lemah bisa donor darah
atau berdarah-darah.

Taman Kecil Depan Rumah


Jika taman kecil depan rumah
Ukuran dua kali dua meter
Dengan air terjun mini, pohon cemara, mangga
Tiga pohon bunga melati, lavender dan anggrek
Memberiku kesejukkan dan ketenangan
Bagaimana dengan taman surga
Yang Kau janjikan dalam ayat-ayat-Mu
Yang keindahannya tak terlukiskan?
Betapa bodohnya aku
Hanya untuk mewujudkan taman kecil depan rumah
Aku sering melupakan taman surga-Mu!

Malam Tahun Baru


tak kutemukan keheningan
yang biasa hadir dalam sujud tahajudku
saat jarum jam diangka dua belas
langit malam semarak
warna-warni kembang api
suara-suara riuh
riang dari ruang hampa
bising mengisi ruang kepala

tak kutemukan keriangan
yang mengisi ruang dada
ketika langit semarak warna-warni kembang api
api yang menghanguskan gubuk-gubuk petani Mesuji
rumah-rumah kaum syiah di Madura
desing kembang api yang melintas di atas kepala
desing peluru dari senapan di Mesuji, Sape, Timika, Aceh dan Manokwari
jerit terompet mengiris malam
jerit istri kehilangan suami, jerit petani kehilangan lahan, jerit keluarga kehilangan tempat tinggal

Saat malam menuju puncak
Jarum jam meninggalkan angka dua belas
Aku kehilangan diriku dan negeriku.

Orkestra Buruh

waktu seakan berhenti
 bersama mesin yang bergerak dua puluh empat jam
 tubuh-tubuh bergerak sesuai perintah
 repetitip
 sesuai irama yang dimainkan mandor dan manajer
 semua bernyanyi dengan nada sama
 rendah
 tak ada suara satu, dua atau tiga
 yang sumbang kena PHK
 tak ada improvisasi
 repertoar dibuat untuk kepentingan produksi
 nada tinggi hanya untuk manajer dan direksi
 harmoni hanya untuk kebutuhan investasi
 buruh hanya ikut konduktor
 sesuai arahan produser.

Rabu, 06 Mei 2009

ZAMAN MODERN ATAU JAHILIYAH

”INI ZAMAN MODER”

BUNYI SPANDUK

YANG TERPASANG PADA BILBOARD TENGAH KOTA

TERBENTANG DI GAPURA-GAPURA DESA

DI LANGIT BULAN PUCAT

KEHILANGAN WARNA

BINTANG KEHILANGAN TERANG


”INI ZAMAN MODERN”

BUNYI SEBUAH KORAN PAGI

DENGAN HEAD LINE BERITA

SEIBU PERAMPOKAN

SERIBU PEMBUNUHAN

SERIBU PERKOSAAN

SERIBU KORUPSI

SERIBU KOLUSI

SERIBU MANIPULASI

SERIBU PERZINAHAN

SERIBU PELACURAN

SERIBU PENINDASAN

SERIBUPENGGUSURAN


”INI ZAMAN MODER, BUNG”

SERU SEBUAH SUARA

DARI SOUND SYSTEM KEKUATAN SEJUTA WATT

YANG DIPANCARKAN DARI GEDUNG SERIBU TINGKAT

LAKI-LAKI BOLEH BERAMBUT SEPINGGANG

BERLIPSTIK DAN MEMAKAI ANTING

WANITA BOLEH BERAMBUT CEPAK

BERCELANA KETAT ATAU MEMBUKA AURAT

PARA BAPAK BOLEH LUPAKAN ANAK

DEMI KEKAYAAN DAN KESENANGAN

PARA IBU BOLEH LUPAKAN DAPUR

CARI APA SAJAYANG MENGHIBUR


”INILAH GAYA HIDUP MODER” UJAR SEPASANG ANAK MUDA

DENGAN RAMBUT BERWARNA GAYA PUNK

PAKAIAN GAYA METAL

PIZZA DAN FRIED CHIKEN JADI MAKANAN HARIAN

WISKY DAN BIR JADI MINUMAN KESEHATAN

PUTAW DAN ECTASY JADI OBAT FLU

PIL-PIL ANTI HAMIL JADI GULA-GULA

MAKANAN RINGAN GADIS REMAJA


”INIKAH ZAMAN MODERN?’

TANYA HATIKU

SAAT KUSUSURI LORONG-LORONG KOTA

WAJAH-WAJAH KEHILANGAN BENTUK

LANGKAH-LANGKAH KEHILANGAN ARAH

WARNA-WARNA MENGABUR

ADZAN BERUBAH JADI NYANYIAN

SHALAT DIJADIKAN GERAK BADAN

TUHAN DIGANDAKAN

DUNIA JADI SERBA TUHAN

AKHIRAT JADI CERITA KHAYALAN

AGAMA JADI PERMAINAN

NORMA DAN MORAL JADI HIASAN


”AKU HIDUP DIZAMAN MODERN”

BISIK HATIKU

SAAT KUTATAP CERMIN

WAJAHKUPUN TAK KUKENAL LAGI